Bukit Sikunir, Pesona Sunrise Dieng Plateau

Dieng. Hal pertama yang muncul dalam pikiran kita adalah dataran tinggi yang dingin. Ya, Dieng merupakan dataran tinggi dengan puncak tertingginya berada pada 2093 mdpl dan suhu terdinginnya pada musim kemarau bulan Juli-Agustus bisa menembus angka 5 derajat celcius. 

Apa sih yang gue lakukan di Dieng? Sebagai mahasiswa (tua) di Universitas Gadjah Mada wajib hukumnya untuk mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang diselenggarakan oleh LPPM. Dalam satu unit KKN terdapat 20-30 mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah KKn yang benilai 3 sks itu yang minimal berasal dari 2 cluster. Kebetulan saya masuk di unit KKN yang dibuat oleh dosen dan mahasiswa dari teknik geologi yang anggotanya setengahnya lebih berasal dari cluster saintek yaitu fakultas teknik, cluster agro; kehutanan, cluster soshum; fisipol dan FIB. KKN unit ini bertemakan "Taman Pendidikan Panas Bumi" jadi merancang master plan untuk taman pendidikannya itu sendiri dengan Dieng sebagai lahan taman itu.

Oke, yang akan gue bahas bukan isi dari program kerjanya. Tapi, pesona alam Dieng yang bikin kita pingin teriak "Subhanallah!" 

Dataran tinggi Dieng memiliki satu objek wisata alam yang bikin kita berdecak kagum karena keindahan Sunrisenya, Bukit Sikunir. Kawasan wisata Dieng tidak memiliki akses jalur utama yang berbeli-beli dan banyak, tinggalah di sana 2-3 hari, maka kita akan sudah cukup menghafal jalanannya. Perjalanan ke Bukit Sikunir tidak terlalu jauh dari jalan masuk ke kawasan wisata Dieng. 

Pada masa saya mendatangi bukit Sikunir untuk pertama kalinya, bersama teman-teman sub-unit 3 dan 4 yang tinggal di satu basecamp di dusun Bakal, desa Bakal. Karena sebelumnya ada 4 orang teman saya yang telah berunjung ke sana beberapa hari sebelumnya yaitu Dimas, Andika, Okta, dan Dwik (p.s. Dwik ini wanita :D) kami tidak memerlukan guide lagi :) Pada saat itu bulan ramadhan, kami memutuskan untuk berangkat pada malam hari dari basecamp di desa Bakal dan menginap di museum Kailasayang terletak di desa Dieng Kulon, sebenarnya perjalanan tidak jauh, namun karena pertimbangan kita akan sahur sebelum trekking. Kami tidur di museum itu karena sebelumnya 4 teman kami pernah menginap di sana dan berakhirlah kami tidur di museum dengan bermodalkan sleeping bag yang sebelumnya Andika dan Dwik harus menggedor Indomaret Dieng untuk membeli persediaan minuman untuk sahur (lol).

Jam setengah 3 pagi kami bangun untuk shaum, selesai sahur kami bertiga belas berangkat sekitar jam 4 pagi. Kami melakukan ibadah shalat subuh di atas bukit. Pada masa itu, sudah dibuka jalur untuk trekking, namun belum terdapat rambu-rambu yang banyak. Disarankan untuk menggunakan sendal gunung atau minimal sepatu kets (no Crocs, no sendal selop!). 

Perjalanan trekking hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sebenarnya itu bukan perjalanan trekking yang sangat berat, namun karena udara tipis dan dingin, gue yang saat itu belum terbiasa dengan trekking di pagi hari lumayan menguras tenaga juga. Sesampainya di atas, di sana terdapat stop site 1, stop site 2, dan stop site 3. Stop site 3 merupakan yang paling tinggi, tempatnya pun lebih luas dan terdapat beberapa puncak bukit lagi untuk menikmati sunrise.

Berikut beberapa dokumentasi kamera nikon butut gue untuk sunrise di bulan Agustus:


the sun is shining shily ~




Sunrise di antara samudra awan ~



Langit Jelly di sebelah barat ~




Samudra di atas awan ~


Sunrise mulai muncul dan merona dimulai pukul setengah 6 pagi, s,o jangan telat datang ya, perkirakan estimasi waktunya dan kekuatan fisik teman-teman yang diajak trekking. Dapat kita lihat, dari puncak bukit Sikunir kita bisa melihat gunung Prahu, gunung Merapi, dan gunung Merbabu.

Sebagai mahasiswa arsitektur yang diibaratkan hidup 24 jam dalam sehari, weekend pun kami harus bekerja, yaa banyak tugas banget intinya. Hasrat membolang untuk menikmati keindahan alam dan budaya terpendam dalam beberapa tahun ini karena hanya bisa pergi setiap liburan semester T^T nah, dari situ hati dan pikiran gue tergugah, beruang yang bobok untuk hibernasi musim dingin sudah bangun, ini sudah masuk musim semi. Dari situ gue semakin bersemangat dan semakin ingin melatih fisik dan mental untuk trekking ke gunung yang sesungguhnya, hutan yang sesungguhnya. Memang semua sudah jalan dari Allah gue untuk pindah ke unit KKN di Dieng ini :)

Bukit Sikunir yang sekarang telah terdapat banyak rambu-rambu utnuk mencapai ke atas, sampai rambu-rambu nasehat keselamatan :p di area parkirannya pun sekarang telah terdapat banyak warung-warung untuk kongkow dikala kelaparan mendera sehabis trekking bukit. Jalurnya pun sudah berbentuk tangga-tangga, ada batas handrail, batu-batu yang disusu bertangga-tangga, sampai pondokkan untuk ngaso di stop site ke tiga. Sampai pada waktu gue nulis ini sekarang, total naik ke bukit Sikunir sudah 5 kali, karena ketagihan? Bukan...bukan. 

Kalau mau dihitung gue sudah 4 kali datang menyantroni Dieng, kenapa? Gak bosen apa ke Dieng terus? Gue merasa Dieng punya banyak cerita, banyak kenangan, banyak hal yang bisa gue ingat dari banyak spot di dataran tinggi Dieng, cerita selama 5 minggu bersama 25 teman unit KKN 99, khususnya 12 teman di basecamp desa Bakal yang sudah tinggal bersama selama 5 minggu. So, I'll treasure those moments for my grandchildren :)

Berikut dokumentasi sunrise yang diambil di bulan Januari: 






Berikut sunrise bukit Sikunir yang diambil pada bulan Maret 2013:


Berikut sunrise bukit Sikunir yang diambil pada bulan Mei: 



*mohon jangan tanya lagi berapa kali saya ke sana :)*