Hiking Tektok Merapi

Halo Jogja! Jogja katanya romantis. Jogja katanya unik. Dulu sekali pertama saya masih jadi mahasiswa baru yang polos, saking polosnya lebih polos daripada kertas HVS A4 yang dipakai buat ngeprint draft skripsi. Iya, kertas HVS A4 kan mahal ya, sekali ngeprint draft buat ditunjukkin ke dosen pembimbing bisa ngeprint sampe hampir seratus halaman, bahkan terkadang dosennya gak mau baca cuma minta diceritain, habis itu kertasnya mubadzir. Oke, ini curcol, boleh banget dilupakan. Dulu waktu jadi mahasiswa baru, masih sibuk ospek jurusan yang bercampur dua prodi Arsitektur dan PWK, hal yang sempat ditanyakan adalah garis imajiner Yogyakarta dan ditanyakannya menggunakan bahasa jawa kromo. Oke, skak mat! Saat itu saya pingin cari tiang di malioboro (karena proses ospeknya di jalanan malioboro-masjid kauman) buat jedukkin kepala siapa tau otaknya goyang terus kesurupan dan bisa ngomong bahasa jawa terus saya jadi suka pake kebaya dan konde gitu kan. Apa sih garis imajiner Jogja? Apa saja garis imajiner itu? Garis Imajiner Jogja itu secara filosofis diartikan sebagai keselarasan dan keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan sesamanya yang berkaitan. Bermulai dari Pantai Selatan Parangkusumo - Panggung Krapyak - Keraton Yogyakarta - Gunung Merapi. Sebagai MABA yang polos tadi saya pingin sekali mengunjungi semua tempat itu, ya, pada saat itu saya masih bocah polos yang baru menginjakkan kaki tanpa orang tua di propinsi lain (nb: sampai saat ini juga masih polos). Saat itu saya sadar, tempat yang paling sulit untuk saya kunjungi adalah gunung Merapi, jangankan ke puncaknya, ke kaki gunungnya saja saya berpikir sulit ah.

Namun, sekarang semuanya berbeda. Bukan, bukan berbeda karena merapi tiba-tiba bertukar tempat dengan gunung Krakatau di Lampung. Tapi, berbeda karena saya sudah memiliki teman-teman yang solid yang bisa diajakkin hiking apalagi trekking dan yang paling penting saya sudah memiliki keberanian untuk menyantroni puncak-puncak yang indah itu. 

Sebenarnya wacana untuk hiking ke merapi sudah keluar sejak lama, sejak kami hiking bukti Sikunir-gunung Prau tengah bulan Mei lalu, namun, sepertinya musim hujannya sedang mabuk. Apa, sih? Kok nyalahin musim? Iya, seharusnya bulan Mei sudah masuk musim kemarau, tapi musim hujannya bandel gak mau ngalah, kayanya dia depresi ditolak sama musim semi, jadinya dateng ke bar dan mabuk-mabukkan. Oke, delusional. Akhirnya diputuskan sama kapten mendaki gunung lewati lembah kita, yaitu Adank, mari rapatkan shaf untuk mendaki merapi pada hari Kamis, 30 Mei 2013. Sepakat di antara kami Adank yang mau woro-woro ke Masros kalo hari Kamis diagendakan untuk mendaki Merapi, Adank mau telpon Masros. Tapi memang Adank masih bocah, dia bukan keterbelakangan mental. Bukan. Tapi dia keterbelakangan kelakuan. Alasan dia gak jadi menelpon Masros untuk diskusi itu: dia mau beli pulsa, sudah keluar, sudah di tengah jalan, dia lupa nomer telpon sendiri, dia pulang dengan cantiknya, dan dia mager, mager sampe keesokkan harinya, dan berakhir gak woro-woro ke siapapun. Sampai pada hari Selasa, Selasa malam. Kalau kita dikasih tau akan hiking hari Kamis, pasti ekspektasi kita hari Kamis cuss berangkat ke basecamp Merapi, tapi tidak begitu dengan Adank. Hari Kamis ke Merapi itu = hari Kamis kita sudah summit, sudah di puncak yang berarti Rabu sore harus sudah berangkat dari Jogja. Aku syok. Aku kasih tau Masros syok. Bontang paling syok. Untung gak ada yang stroke aja sih. Alhamdulillah.

Kalo kata Pundy, teman saya yang anak pecinta alam teknik mesin, hiking itu namanya 'tektok', nyampe puncak terus udah langsung turun lagi. Akhirnya kita putuskan mau tektok saja karena hanya berempat. Aku, Adank, Masros, dan Bontang berangkat dari Jogja Rabu sore, sore, soreee banget. Berangkatnya misah berdua-berdua, ketemuan di Magelang, di warung bakso Granat. Oke, itu aku sama Adank laper pasalnya sudah malam dan kehujanan.

Kita menuju basecamp New Selo lewat jalur menuju ke Keteb. Aku bawa carrier Adank isi tenda di belakang, sewaktu memasuki jalanan aspal yang menanjak secara jahanam saya bingung takut jatuh dan berakhir pegang sweaternya Adank yang berakhir dia ikut tertarik. Jatuhlah. Oh motor gendutku, maafkan aku. Jalanan di depan masih menanjak tanpa ampun buat kendaraan, sebenernya gak jauh lagi, tapi aku dan Bontang yang berlebih ini harus jalan kaki menuju pendopo terakhir di sebelah jalur pendakian. 

Joglo itu aneh, ada warung-warung, ada gardu pandang, dan ada bangunan yang kelihatannya seperti basecamp. Keadaan gelap, tidak ada cahaya dan tanda-tanda manusia sama sekali. Oke, saya sudah tidak suka tempat itu sejak pertama melihat.  Pasalnya di situ memang tidak ada orang sama sekali, tapi ada kilatan cahaya seperti pantulan di lempeng besi, ada suara kerikil dilempari di atas papan, yang terakhir ada kilatan cahaya seperti laser. Yasudah, yuk turun. Ternyata benar, kita kelewatan basecampnya masih di bawah sekali di kiri jalan kalau dari bawah dan kalau kita lihat basecamp itu, aku dan Adank dan motorku tidak perlu jatuh :|

Kita parkir motor di dalam basecamp tanpa adanya catat mencatat nama-nama pendaki, kai langsung trekking naik. Selama perjalanan keadaan menyenangkan, karena bisa melihat kota di bawahnya, kelap-kelip, lebih bagus dari bukit Bintang di Wonosari. Jalan raya yang memiliki lampu jalan oranye jadi berbentuk seperti sungai oranye. Jalanan menanjak sekali tanpa ampun, sebenernya gapapa itu biasa saja buat anak-anak yang sudah beberapa kali pernah trekking gunung. Hanya ada satu masalah, kami kurang tidur dan masih lelah paska perjalanan kehujanan Jogja-Selo. Apalagi karena hiking dadakan ini, Masros yang masih mengerjakkan proyek animasi yang diminta Lala akhirnya kurang tidu dikarenakan Masros salah tanggal pengumpulan. Ya, Masros ini memang setiap mau naik gunung kalo gak habis begadang, habis main futsal, belum pernah aku dengar Masros habis selesai menipedi sebelum naik gunung. Kan biar bisa fotoan dengan jari cantik.

Kami mulai mendaki sekitar pukul 11 malam pada hari Rabu, beristirahat setiap 45 menit-1 jam. Sampai di atas, di mana batu-batu pecah dan kami memutuskan untuk berhenti dan melihat sunrise dari situ dari rencana awal akan membangun tenda di pasar bubrah yang dilanjutkan dengan summit dan tidur sebelum akhirnya turun. 





Sunrise dari puncak sebelum pasar bubrah, itu saya dan Bontang


Puncak merapi saat mengeluarkan asap, itu Adank si bocah sintings

Ini spot kami istirahat, ini Masros

Rute dari pasar bubrah menuju kawah dan puncak tertinggi sangat terjal, sekitar 60 derajat miringnya, dengan keadaan berbatu dan berpasir. Jalan di pasir sangat menyebalkan, pasalnya kita maju 2 langkah dan turun 1 langkah. Persis permainan Donal Bebek, "Donal Bebek, maju 1 langkah, mundur 3 langkah, 1, 2, 3". Tapi, saya bingung, kayanya Donal Bebek yang saya tau maju terus jalannya :| 



Ini jalur batu dan pasir Donal Bebeknya :|

Takut ambil langkah, ya, itu sudah bisa dirasakan di Merapi, gak perlu sampe semeru, salah melangkah batunya jatuh ke teman di belakang kita. Tubuh yang belum tidur dan makan itu letoy sekali rasanya. Stamina saya habis di situ. Oh ya, yang menuju ke kawah hanya bertiga, aku, Adank, dan Bontang. Akhirnya turun sih sekian langkah sebelum sampai di kawah. Saya. Ya, saya sudah menyerah, stamina sudah habis sebelum turun. Bontang sempat trauma takut mau turun cepat-cepat karena sewaktu naik Bontang ikutin jalanku lewat batuan yang agak datar tiada pijakkan. Hehehe, saya itu menyesatkan. Beneran menyesatkan lho. 


Sekedar samudra awan

Puncaknya tapi saya gak sampe sana :|

 Pasar Bubrah

Ayuk, turun terus nenda untuk masak dan bobo. Itu wacananya. Wacana. Tapi pada akhirnya kita turun melaju sampai basecamp tanpa nenda dan tidur. Yasudah, langsung pulang saja yuk cuss cari makan di luar, di Magelang. Lagi-lagi wacana. Akhirnya kita berempat makan di Jogja, di Pak Topo lebih tepatnya. Apa banget :| Padahal total trekking kita hampir 15 jam.

Tapi intinya, Merapi itu indah sekali. Subhanallah. Ngapain banget jauh-jauh cari gunung lain, ternyata gunung yang menangkap mata kita setiap harinya saja sudah indah sekali hanya dengan trekking pendek 6 jam paling lama. Terlihat dari puncak ada gunung Merbabu, Sindoro, Sumbing, Slamet, dan gunung Lawu. Walau pada detik itu saya baru tau kalau Slamet dan Lawu bisa terlihat dari Merapi. Saya benar-benar gak melihat Merapi dan Merbabu saat sudah dua kali sampai di puncak Lawu. Oke, yang kedua memang badai parah di puncak Lawu. Ampun. Saya jangan dilempari batu, lempari outdoor gear gratis saja boleh, nanti saya tangkap pakai terpal.

gunung Sindoro dan Sumbing

gunung Merbabu

See you, Merapi ;)

Lantas kenapa tadi bercerita tentang ospek di Malioboro? Gapapa, saya cuma pingin mengenang masa-masa kepolosan saya, walau sekarang juga masih polos. Terimakasih Adank, Masros, dan Bontang yang sudah mau nungguin saya sakit perut karena masuk angin selama trekking :'))