Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

Tahan Amarah yang Mudharat Itu

Selamat malam! Di luar sedang hujan. Allahuma Shayyiban Naafi'a, semoga hujan ini membawa berkah bagi kita umat Islam, aamiin. Minggu-minggu menjelang deadline pengumpulan draft skripsi di mana saya seharusnya panik. Ya, seharusnya. Hari dimulai dengan skripsi, guling-guling di kamar, dan beres-beres kamar tiada akhir. Saya harus keluar rumah minimal sehari sekali untuk memastikan saya masih hidup dan orang lain masih bisa melihat saya. 

Sore itu damai diwarnai dengan langit yang kelabu dan angin mengirim sinyal akan menurunkan berkahNya berupa hujan. Saya pulang menuju kos Muslim dan Muslimah, asik, di Condong Catur agak tepatnya. Musibah memang tidak kenal waktu, tidak peduli kapan dan di mana, tidak peduli cepat ataupun sebentar, siapa dan atau siapa saja bisa menyebabkan musibah itu terjadi. Saya mengendarai motor dengan santai kecepatan tidak sampai 15km/jam. Kalau kata salah seorang teman saya, "kamu sombong sih, karena selalu gak pernah jatuh dari motor". Yaa, mungkin ada benarnya kalimat teman saya itu. Saya terlalu santai di atas motor sehingga sedikit lengah dan lalai dalam memperhatikan jalan yang berakibat fatal. Mobil city car berwarna putih yang tadinya terparkir di kiri jalan ternyata bergerak maju, saya diklakson dan kaget dan banting motor ke kanan, tapi ternyata si empunya mobil tidak menghentikkan laju kendaraannya paska meng-klakson saya. Berakhirlah saya menabrak tanaman dan tembok orang dan jatuh ke arah kiri mengenai bemper kiri pojok si mobil. Shock. Itu hal pertama yang dirasakan anak gadis ini, di saat saya mengendarai motor jauh antar kota dengan kecepatan anak laki-laki, tidak sedikit juga menabrak apalagi sampai jatuh. 


Otak saya berputar, saya harus bicarakan hal ini baik-baik. Namun, takdir berkata lain. Bukan, bukan tiba-tiba mobil itu berubah menjadi kereta kencana berbentuk labu lalu seorang Cinderella bersepatu kaca dan ibu Perinya keluar dari situ. Tapi, seorang anak laki-laki yang sedikit tidak asing wajahnya keluar dari mobil itu. Etika. Etikanya ketika seorang pengendara mobil melihat pengendara motor yang dia tabrak jatuh bersama dengan motornya, saya yang juga sebagai pengendara mobil akan berpikir "Apa orang yang jatuh ini baik-baik saja?" "Apa orang ini tubuhnya tertabrak mobil saya? Atau dia tubuhnya tertimpah motornya saat jatuh dan tidak bisa berdiri?" Memang bubuk peri dewi fortuna tidak selalu bersama saya. Si pengendara mobil turun mobil dan yang saya tangkap pertama kali adalah --- dia mengkhawatirkan mobilnya, keadaan mobilnya yang mungkin mobil baru dengan plat tahun 2016. Mengkhawatirkan kendaraannya wajar, kok, siapa sih yang rela mobilnya lecet? Namun, hal yang menurut saya pribadi sangat tidak etis adalah beliau yang laki-laki turun mobil lalu marah-marah kepada saya yang perempuan yang bahkan saya belum berdiri paska jatuh itu. Boro-boro mau nanya keadaan saya, bantuin berdiriin motor saya. Beliau langsung marah-marah di saat saya bahkan masih menggelepar di atas jalanan paving dan tertimpa motor. Oke. Orang ini juga mungkin sama dengan saya, beliau shock.

Tuhan, ajari saya marah-marah. Saya tidak bisa marah-marah di depan orang lain, tidak mudah diprovokasi. Saya hanya membela diri yang sedikitnya itu salah saya juga. Beliau meminta ganti rugi atas bempernya. Sebenarnya sih bempernya ga ada bonyoknya, hanya lecet, kebaret, dan cat motor saya yang berwarna hitam, putih dan pink itu ngelupas dan nempel di bempernya. Masya Allah, saya gak sekali melihat bemper mobil yang bermasalah dan masalah yang seperti itu sepengetahuan sayang tidak perlu sampe dicat ulang full. Sepertinya sih beliau berpikir "pengecatan" di mobilnya. Saya bukan ingin membandingkan karakter orang. Dari pengalaman yang sudah-sudah, di mana kendaraan besar pasti dan harus mengalah dengan kendaraan yang lebih kecil. Bahkan bapak-bapak saksi di sekitar tempat kejadian pun menyarankan kami ke polisi saja, karena kalau di kantor pun si pengendara kendaraan yang lebih besar pun yang akan dipersalahkan. 

Di luar hal lumrah tersebut, apa beliau tidak berpikir, anak perempuan orang lain beliau marah-marah, luka-luka yang saya derita, kerusakkan motor yang saya alami. Sorry to say, saya luka-luka dan memar di bagian tangan dan rangka body motor saya juga pecah terkena bemper mobilnya beliau and shamefully, he arrested my KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). I'm not someone who could be provoked easily, hold back my emotion easily, yet it's still difficult to let something hurts me go. 

Ternyata beliau adalah penghuni kost yang sama dengan saya, beliau di bagian rumah kost anak laki-laki. 

Sebenarnya ini masalah etika. Etika. Etika pengendara kendaraan lbh besar terhadap yg kendaraan kecil. Etika laki-laki terhadap perempuan. Marah-marah itu kegiatan mudharat banget. Gak ada buah baik dari kegiatan satu itu. Katanya sih menahan amarah itu sulit, tapi ternyata lebih sulit lagi itu ikhlas. Butuh belajar jauh lebih banyak lagi ini. Amarah yg dilampiaskan kepada orang lain itu bisa berbuah luka hati. Gak ada jaminan itu gak berbekas. Apalagi untuk kesan pertama.

Ya, saya menjadi skeptis untuk kesan pertama yang seperti itu. Spontanitas? Tindakan yang seseorang ambil dalam keadaan spontan adalah karakter asli dari orang tersebut. Saya ingat sekali langkah angkuh dan meremehkan di atas jalanan paving keras sore itu. Hey, mas, saya juga pengendara mobil. Janganlah sombong, saya juga pernah melihat hal dan goresan semacam itu di kendaraan (dari orang tua) saya.


Hal yang patut sekali saya syukuri dan ucapkan terimakasih adalah masih banyak orang yang membela saya yang tidak terlalu pintar melawan ini. Terima kasih untuk bapak-bapak sekitar yang menjadi saksi dan membela saya. Terima kasih untuk ayah saya yang sore ini baru saya dengar selama 22 tahun ini beliau bisa marah seseram itu begitu mendengar anak gadisnya dimarahin orang karena masalah materi sepele oleh orang lain. Terima kasih untuk mas-mas kost yang turut menenangkan saya via socmed twitter, yaa walaupun sebenarnya saya kurang suka hal-hal semacam ini diberitakan kemana-mana yang ternyata beliau telah bercerita ke teman kost yang laki-laki. Tapi allhamdulillah semua berakhir damai, walau luka hati sudah terlanjur ada. Ya, saya harus belajar ikhlas. Sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa, 'kan. :)

Oh, ya. Saya merusak rekor saya tidak pernah jatuh ataupun tabrakkan saat mengendarai motor di Jogja. Tidak pernah membuat lecet kendaraan sendiri tapi malah membuat lecet mobil orang lain :D


Yasudahlah. Kejadian sore ini banyak hikmahnya. Selalu memperhatikan jalan saat berkendara. Jangan mau dimarah-marah sama orang lain, harus belajar marah, nih. Ah, tapi kegiatan marah-marah semacam itu patut dihindari, kegiatan mudharat yang Allah tidak suka. Hey, I wanna be a big girl, 'aight? Lantas, kenapa harus gak ikhlas? :(

Hiking Tektok Merapi

<$BlogPageTitle$> <$BlogItemBody$>

Wisata Absurd Pantai/Tebing Bekah

<$BlogPageTitle$> <$BlogItemBody$>

Caving Kalisuci

It's all started on another 'selo' Saturday. Lagi, ini cerita dari hari sabtu yang (sudah direncanakan) selo. Ii cerita dari tahun lalu lagi, sekitar bulan oktober 2012. Empat anak gadis, terutama Wida, teman saya yang manis ini (teman saya cantik semua kecuali saya, saya ganteng sih). Berawal dari mulut gue yang cukup ceriwis di hadapan orang-orang terdekat ini membicarakan perihal goa Jomblang yang merupakan goa dengan mulut goa yang vertikal, selain caving susur goa, juga memerlukan kemampuan untuk srt turun goa setinggi sekitar 20 meter itu. 

Akhirnya, dengan pertimbangan demi keselamatan anak-anak gadis rumahan ini, diputuskan mendatangi tetangganya saja, sungai Kalisuci, semacam dengan goa Pindul juag sebenarnya, caving dengan memasuki goa-goa gitu. Kami, empat anak gadis berangkat ke Kalisuci menggunakan motor dengan sok taunya, kembali menggantungkan harapan dengan GPS smartphone. Sempat beberapa kali kami sedikit nyasar karena bablas belokkan dan yang menurut gue banget itu gawat orang-orang di sana, orang tua yang sedang meladang sih (ngapain juga sih mon gangguin mbah-mbah di ladang :")) ) ditanya arah dan dijawab menggunakan bahasa jawa. Gue bengong, Sindy bengong, Mbahnya bengong, untung si Vina gak bengong, Thank's Vina! Aku akan lamar kamu! *salah fokus* 

Satu hal yang memang saya kurang suka dengan wisata di Indonesia, kurang informatif. Bukan plank-plank menuju Kalisuci maupun goa Jomblang yang kami temui, namun plank-plank yang mengatakan "Menuju Medan Gerilya". Oke. 

Kalisuci berada di ujung jalan melewati gang menuju goa Jomblang. Sesampainya di sana sekitar jam 9-10 pagi dan masih sepi. Kami disambut dengan mas-mas di basecampnya dan langsug dijelaskan mengenai caving itu mengenai biaya dan jaraknya. Dengan biaya 65.000 rupiah kami berempat dengan didampingi oleh dua prang pemandu laki-laki yang ternyata mas-mas yang hobi manjat gunung (saat itu saya belum senang mendaki gunung) dan dibawakan ban-ban kami layaknya tuan putri yang sedang wisata cantik.




yuk, perlengkapannya dipakai, sabuk dikencangkan, cantik ;)








Ini gue, sindy, wida diminta manjat batu itu yang entah apa esensinya, tapi kami nurut :|



Diminta pose sama mas-masnya yang entah pose apa di dalam air :|




Suasana sewaktu melewati mulut goa





Stalaktit yang ga boleh dipegang dan diinjak, bukan, bukan keramat, masnya bilang "kalo kita merusak alam kelak alam yang merusak kita" ciye masnya...

Kita diijinkan main-main sehabis keluar mulut goa dan pulangnya? Pulangnya kami menaikki tangga menuju tempat pick up menjemput kami dan (atau) ban-bannya menuju basecamp tadi. Hosh hosh aduh anak-anak gadis ini udah ngos-ngosan aja diajak jalan :D

Ada satu hal yang agak aneh. Saat kami sampai di basecamp ternyata wisatawan yang mau caving juga lumayan rame, yang saya lihat ada 2 rombongan yang berpapasang dengan kami. Rombongan pertama berpersonel 6 orang, 4 orang cowok 2 orang cewek didampingi 2 guide dengan ban yang cewek dibawain sama pemandunya. Rombongan ke dua 4 orang cowok didampingin hanya dengan satu pemandu dan bannya dibawa masing-masing. If you know what I mean ;) Oh ya, disarankan untuk membawa kamera poket saya, bisa dibungkus dengan plastik atau menggunakan underwater case, kameranya nanti akan dibantu pegang sama pemandunya kok.

*maaf untuk foto dengan celana jeansnya* *bows*






Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang

Di hari Sabtu selo, ada empat bocah kost berisik yang berencana menyantroni salah satu lokasi air terjun dan gua yang terdapat di gunung kidul. Gue, Sindy, Vina, dan Wida yang sudah merencanakan sejak beberapa hari sebelumnya. Kebetulan gue sedang kedatangan tamu istimewa, yaitu Kiki, sahabat gue sejak SMP, wanita tangguh yang mampir ke Jogja untuk mengistirahatkan jiwa dan fisik terutama, karena Kiki baru saja memanjat Gunung Tertinggi di wilayah Indonesia tengah, yap, gunung Rinjani. 

Kiki sahabat gue yang sejak SMP ini memang sudah 'berlabel' anak karate ini juga anak pecinta alam di kampusnya fakultas Teknik Universitas Lampung. Awalnya Kiki akan melakukan marathon pendakian yang dimulai dari mendaki gunung Rinjani - Semeru - Sindoro - Sumbing berdua dengan temannya satu kampus teknik. Namun, apa daya fisik tidak bisa berbohong, kaki kiki yang tangguh itu runtuh juga, kakinya bengkak, yaaa gue juga sempet ngalamin, tapi karena itu gunung naik-turunnya seminggu, kakinya bengkak parah sampe gak tega rasanya. Akhirnya dia nginep di kost gue selama seminggu hitung-hitung melepas kangen, sedangkan temannya yang satu lagi melanjutkan pendakian ke gunung Sindoro-Sumbing. 

Akhirnya, Kiki gue ajak dan jadilah 5 bocah berisik jalan langsung menuju tempat di mana Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencana berada, di Playen, Gunung Kidul. Seperti biasa, perjalanan kita cukup clumsy karena di antara kita tidak ada yang mengerti jalan, hanya mengandalkan GPS smartphone. 

Untuk objek pertama seharusnya kami mengunjungi Goa Rancang Kencana terlebih dahulu, tapi dasar memang kami anak-anak gadis (maaf, cantik) yang nekat, kami suka sok tau (ini juga penyakit) sesampainya di playen dan mendapati post, sebenernya sih lebih berbentuk seperti post ronda ketimbang loket tiket wisata, kami bayar dan langsung jalan masuk dan melewatkan urutan pertama yang seharusnya goa Rancang dan langsung menuju si air terjun. 



Sampai di sana kami parkir motor setelah melewati jalan berdebu, lebih tepatnya sih berpasir putih yang di mana motor saya jadi makin serba putih, terimakasih tongfang. Oke, maaf, itu salah fokus. Seharusnya sih kita bisa menuju air terjunnya langsung melewati ladang, sawah, dan hutan yang sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi memang 5 anak gadis ini polos-polos dan langsung bayar tiket getek, aduh apa ya gue sebutnya? Semacam perahu yang dirakit menggunakan drum-drum di bagian bawahnya dan pakai mesin perahu gitu seharga 10.000.  Oke, ini pengalaman pertama di mana saya beberapa minggu kemudian mendatangi tempat itu dan memilih jalur darat untuk menuju air terjunnya secara gratis. Tapi memang feel yang didapat dari dua jalur itu berbeda.





Foto-foto yang bisa diambil dari atas getek saat berjalan.


Antri ayo antri masuk ke kapalnya, semoga gak kelebihan muatan. Sampai di air terjunnya sih sebenarnya sedikit iri dengan yang berenang di sana, pasalnya gue dan anak-anak gak bawa baju ganti, yaa walaupun setelah ke sana ke dua kalinya gue juga ga bawa baju ganti sih, maklum berenangnya publik :D  




Ini air terjunnya (ya, saya tau :| )


Setelah puas fotoan, ngemil di pinggir kali, eh sungai, kami balik lagi menggunakan getek tadi (apapun namanya itu) karena tadi sudah untuk bayar pulang-pergi. Tadinya mau iseng tanya, pak supir getek, minta diantar ke jogja sekalian dong, tapi gue urungkan niat, takut diangkat anak. 

Pulangnya barulah kita mampir ke goa Rancang dan hal pertama yang dikomentari bapak-bapak penyewa senter adalah "Wah, mbak-mbakya kebalik harusnya ke sini dulu baru ke air terjun, mbak". Oke, kita anak-anak gadis sok tau main jalan terus. 








Stalaktit, seharusnya kata mas-mas pemandunya itu berkilau


mas pemandu, ikut nampang saja, eh dia orang ugm lho tapi lupa darimana :D


*maaf foto-foto dengan celana jeans nya* *bows* 

2PM - Without U (Japanese version)


I’m gonna get stronger
Pain imademo Hard na Everyday naite Heart ga
omoidasu kimi in those days without you kurushiku nate
demo I know kitto muri dato I see kizuguchi mada hirogaru mae ni
saigo wa Smile shou You said dakara I’m OK
anata ni suki dato itte?
eien wo chikai atta no ni
kimi no tameni, I gave you my everything

Now you are gone
I’m gonna be ok (Gonna be ok)
I’ll be ok (Gonna be ok)
Baby without you, (Without you)

Baby without you (Without you)
mou kimi nashi demo (kimi nashi demo) daijoubu (asu wa kuru)
hitori demo (Without you) arukeru sa (Without you)
Listen, kimi ni totte shou Reason boku ni totte No Reason
Call me nandoka kete mo Through kuuhaku datta yoru no riyuu
I know kimi wo ai sou soredemo Why not? mou dekinai yo
kimi no uso nukumori mo Love story kore de Over
shirokuji chuu Thinking about you
nemurenai hodo Worry about you
kimi wa Fade away mou wasuretai yo

You don’t know
I’m gonna be ok (Gonna be ok)
I’ll be ok (Gonna be ok)
Baby without you (Without you)

Baby without you (Without you)
mou kimi nashi demo (kimi nashi demo) itsuka wa (kyou mo akeru)
hitori demo (Without you) arukeru kara (Without you)
doushite sa Tell me why
doushite konna ni Made me cry
sugoshita jikan no kazu dake no Wave
kono mune ni oshi yosete kuru
kimi ga nagashita namida mo boku ni butsuketa omoi mo
nukumori sae wasureta no kai mou kimi wa OK without me?
I’m gonna be ok (Gonna be ok)
I’ll be ok (Gonna be ok)
Baby without you (Without you)

Baby without you (Without you)
mou kimi nashi demo (kimi nashi demo) kanarazu (kimi mamoru)
hitori demo (Without you) arukeru sa (Without you)



Romanization by me^^
MOMOE@HOTTEST UNITED

Sendratari Ramayana Prambanan

Yogyakarta community can be proud to have one dance show that has been famous in foreign countries, namely the art of drama (sendra) Ramayana dance. Although there are many sendra Ramayana dance in other places, performances in Yogyakarta this feels more special. Because the story of the Ramayana or the story of Prince Rama is depicted on the wall of Prambanan. Sendra dance adaptation of the Ramayana Rama and Shinta is an art that combines dance and dramatic arts. 

In the play, Ramayana dance Sendra supported approximately 200 people consisting of dancers, singers and players of traditional music. Players dressed in typical Java used in those days, armed with a bow, spear, and dagger. Some players are also there wearing a monkey costume. The dancers dressed in blue means that the scene was in the water or the sea. The story raised in Ramayana dance sendra than on the full moon is a story that has been shortened. The story of Ramayana written by Valmiki in the 4th century BC. The story tells the struggle of love, lust, and greed. Stories from the Land of Hindustan, India is up to Indonesia along with Hinduism history. The story begins when King Janaka held a contest to determine the companion Dewi Shinta (daughter) who eventually won Rama Wijaya. Followed by adventures of Rama, Shinta, and younger brother named Rama Lakshmana in the Forest Dandaka. In the forest they met Ravana's wish to have them as the incarnation Shinta Dewi Widowati, a woman who has long sought. To attract the attention of Shinta, Ravana change of his followers named Marica into a Deer. The effort was successful because Shinta was captivated and asked Rama to chase the deer. Rama after a long search Laksama not come back while Shinta was abandoned and given a magic circle of protection so that Ravana could kidnap. Because it failed after Ravana kidnapped Shinta successfully transform themselves into the figure of Drona. Jatayu or Eagle trying to help Dewi Shinta, but instead cut his wings by Ravana. From Jatayu was Rama and Lakshman knew who kidnapped Dewi Shinta is the giant of the kingdom Alengka (Sri Lanka). In his search of Rama and admirals have to ally with troops of apes led Sugriva and also with sacred white monkey Hanuman. Hanuman who was ordered to search for Dewi Shinta into the kingdom of Ravana Alengka troops finally captured and burned alive, but Hanuman escaped. 

 Angels will appear for every dead man


In this scene the audience is mostly made unnerved foreign tourists. Hanuman acts with fire, like skipping the fire and burn 'houses' of the straw which is a replica Alengka Kingdom. At the end of the story, Shinta been won back from Ravana by Hanuman, the monkey figure agile and powerful. But when brought back, Rama Shinta just do not believe anymore and consider it has been tarnished. To prove the purity, Shinta asked to burn his body. Shinta chastity proved because his body does not burn anything but she became more beautiful. Rama was eventually accepted back as a wife.

Hanuman's in action with the fire

Hanuman with his little men (cute)

Shinta appeared after missing for years


Rama hesitates accepting Shinta back

Icons Cultural Tourism dance performances sendra Ramayanan started in 1964, in East Prambanan temple courtyard. The annual event was held at the initiative of Surakarta Palace and the Palace Pakualaman Kasunanan. New in 1995. PT Taman Wisata Candi opened the show arena complex sendra Ramayana dance at Prambanan temple west. The complex is equipped with a background in Prambanan open stage. Open stage used in the dry season, whereas a closed stage of Trimurti is often used during the rainy season. In addition, the complex was also a fancy restaurant. On show at the outdoor stage, usually begins with dinner at the restaurant at 7 pm. While dining guests can enjoy views of the Prambanan temple night lighting with an increasingly beautify the temple. After that, an hour later the visitors are welcome to move towards an open arena. The many foreign tourists are arriving. They usually come through travel packages that follow.


We only have to pay (in a team) Rp 25,000 to Rp 50,000 per gig. What an amazing sacrifice given the performances of this popular Ramayana dance sendra foreign tourists and has become an icon of cultural tourism for the Special Region of Yogyakarta. Travel Tips Prambanan temple is located about 15 kilometers from Yogyakarta, precisely in the Park Prambanan Temple Complex, Jl. Solo km.17 stand. Hindu temple was built in the ninth century. However, if the rain provided a stage covered in the south of the open stage, namely Trimutri Theatre to enjoy the whole Ramayana story in a shortened version. Sendra Ramayana dance performances begin at 19:30 until 21:30, with a time lag so that the audience can rest. Ticket prices on the open stage Ramayana, for VIP 150,000, at the center of the front, while the Special Rp100.000, its position slightly behind the VIP. For VIPs and special seat has a padded cushion. For class 1, the ticket price of Rp. 75 000 positions in addition to VIP and Special. There is another Class 2 for Rp 45,000, and a special student at Rp15.000 but first there must be submission of a letter from the school.

Lakshmana
Bird helps Rama to save Shinta from Ravana.

I love his character here, he's self-sacrificing for Rama and Shinta, he got GREAT acting here, but I believe he used to play a couple of character here I coulndt find him at the end of show.
the woman always helps Shinta in front of Ravana, even in front of Rama

Hanuman's kiddo kkkk~ (center)



Langit Sore Pantai Siung

Makrab, malam keakraban.
Kalo gue di kost bilang kalo akhir minggu ada makrab, pasti dah jawabnnya "makrab mulu lu".
Yes, definitely! Gue juga bingung kenapa gue makrab mulu, dalam satu tahun gue bisa makrab hampir 4 kali. 
Makrab yang baru kemaren gue ikutin tuh makrab departemen BEM. 
Setahun yang lalu gue juga posting tentang makrab BEM yang gue ikutin juga tapi itu cuma di Kaliurang yaah mungkin sekarang keadaannya udah beda pasca Merapi beberapa bulan yang lalu, tapi kali ini makrabnya di pantai lagi, waktu makrab Prodi gue di Sundak, sekarang di pantai Siung, pantai yang udah lamo pengen gue datengin karena karangnya bagus. 

Gue belajar dari makrab arsi beberapa bulan yang lalu, gue naek bis dan pusing gue berlanjut sampe lebih dari 24 jam! Sekarang eamng gak mungkin pake bis, seperti biasa lebih enak bawa motor, anti pusing di jalanan kayak roller coaster gitu. Gue biasanya dibonceng---tinggal nangkring di belakang. Tapi kali ini beda, karena ni departemen cowoknya minim jumlahnya dan yang berangkat siang cowoknya dikit jadi deh gue bawa motor sendiri ngebonceng si kecil Tika.

Gak masalah sih gue karena jalannya lagi gak licin alias kering dan gak begitu panas juga sedikit mendung. Selama di Jogja gue lama banget gak nyetir di jalan kayak gitu dengan kecepatan tinggi, hehee~ jadi inget labilnya SMA, rumah jaraknya hampir 12km dari sekolah, masuk jam tujuh teng jam 06.45 baru berangkat, pake macet pula, tancap gas dah.

Pantainya menurut gue biasa aja, biasa banget malah, pasirnya kasar dan gak putih, banyak jasad kerangnya juga, ombaknya lumayan gede karena pantai Selatan. Gue berpikir nih pantai SANGAT biasa. tapi kita nyoba jalan ke antara karang-karangnya yang gede itu pas sore-sore, lumayan bagus juga ombaknya gede di antara karangnya, lumayanlaah buat objek poto. 

Pas waktu udah nunjukkin 06.30 langitnya muali berwarna kekuningan, makin malem warnanya berubah jadi oranye ada pinknya juga. Dan pas ketangkep di kamera juga bisa jadi warna merah, Subhanallah menurut gue itu cantik banget :))